Selasa, 30 Juni 2015

PENCEMARAN LINGKUNGAN OLEH INDUSTRI PABRIK TAHU



BAB I
LATAR BELAKANG

Perkembangan industri dewasa ini telah memberikan sumbangan besar terhadap perekonomian Indonesia. Di lain pihak hal tersebut juga memberi dampak pada lingkungan akibat buangan industri maupun eksploitasi sumber daya yang semakin intensif dalam pengembangan industri. Kondisi ini seharusnya dipahami bahwa harus ada transformasi kerangka kontekstual dalam pengelolaan industri, yakni keyakinan bahwa: operasi industri secara keseluruhan harus menjamin sistem lingkungan alam berfungsi sebagaimana mestinya dalam batasan ekosistem lokal hingga biosfer. (Hambali, 2003).
Berbagai industri selain menghasilkan produk yang bermanfaat bagi manusia juga menghasilkan buangan atau limbah. Limbah adalah suatu benda atau zat yang dapat mengandung berbagai bahan yang dapat membahayakan kehidupan manusia, hewan, serta makhluk hidup lainnya.  Industri tahu sebagai salah satu industri primer (pertanian), dalam proses pengolahannya menghasilkan limbah baik limbah padat maupun cair. Limbah padat (Whey) dihasilkan dari proses penyaringan dan penggumpalan, limbah ini kebanyakan oleh pengrajin dijual dan diolah menjadi tempe gembus, kerupuk ampas tahu, pakan ternak, dan diolah menjadi tepung ampas tahu yang akan dijadikan bahan dasar pembuatan roti kering dan cake.
Sedangkan limbah cairnya dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pengepresan dan pencetakan tahu, oleh karena itu limbah cair yang dihasilkan sangat tinggi. Limbah cair tahu umumnya memiliki karakteristik kandungan bahan organik tinggi sehingga kadar BOD, COD yang dimilikinya juga relatif tinggi cukup tinggi.  Limbah tersebut jika langsung dibuang ke badan air, jelas sekali akan menurunkan daya dukung lingkungan. Sehingga industri tahu memerlukan suatu pengolahan limbah yang bertujuan untuk mengurangi resiko beban pencemaran yang ada.
Industrialisasi merupakan conditio sine quanon keberhasilan pembangunan untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi, akan tetapi industrialisasi juga mengandung resiko lingkungan. Oleh karena itu munculnya aktivitas industri disuatu kawasan mengundang kritik dan sorotan masyarakat.  Dalam tulisan ini akan dibahas pencemaran dari limbah industri pertanian yaitu pabrik tahu  


BAB II
KASUS DAN PEMBAHASAN


2.1       Rona Lingkungan    
            Rona lingkungan yang dikemukakan dalam kajian ini dibatasi bukan pada aktivitas fisik (proyek) tapi pada kondisi lingkungan berkaitan operasional kegiatan pabrik. Rona lingkungan lingkungan wilayah sekitar pabrik yang akan dikaji secara sekilas meliputi:
a.         Fisik dan kimia, merupakan daerah pemukiman padat, pertokoan, terdapat jalan raya utama dan terdapat sungai dengan kondisi relatif jernih tidak berbau relatif mengalir deras,
b.        Biologi, terdapat tumbuhan sungai, ikan, merupakan daerah persawahan dengan berbagai usaha  (padi, jagung dan kacang tanah) selain itu terdapat pula tanaman lainnya seperti mangga, pisang dan aneka tanaman pohon.
c.         Sosial budaya, sebagai daerah desa-kota masyarakat setempat masih menggunakannya untuk mandi, cuci dan buang air besar, namun demikian terdapat masyarakat yang telah maju dengan perumahan yang baik dan tingkat pendidikan relatif tinggi.
d.        Ekonomi, merupakan jalur utama antar kota kecamatan dan kabupaten maka arus aktivitas ekonomi (perdagangan) relatif lancar dengan berbagai kegiatan penduduk disekitarnya seperti pertukangan, pertokoan, warung dan perbengkelan serta pertanian. Secara gambar rona lingkungan wilayah pabrik dapat dilihat pada Gambar 1.
 
Gambar 1. Peta situasi perumahan daerah sekitar pabrik tahu Purnomo

2.2       Hasil Pengamatan    
            Proses pembuatan tahu relatif sederhana, protein nabati dalam bahan baku diekstraksi secara fisika dan digumpalkan dengan koagulan asam cuka (CH3COOH) dan batu tahu (CaSO4 nH2O) (Santoso, 1993).  Dalam pemrosesannya, tiap tahapan proses umumnya menggunakan air sebagai bahan pembantu dalam jumlah yang relatif banyak.  Menurut Nuraida (1985), untuk tiap 1 kg bahan baku kedelai dibutuhkan rata-rata 45 liter dan akan dihasilkan limbah cair berupa Whey tahu rata-rata 43,5 liter. Mengingat bahwa bahan dasar tahu adalah kedele (dengan BO tinggi) maka Whey umumnya mengandung bahan-bahan organik berupa protein 40% - 60%, karbohidrat 25% - 50%, dan lemak 10% (Nurhasan dan Pramudyanto, 1987) dan dapat segera terurai dalam lingkungan berair menjadi senyawa organik turunan yang dapat mencemari lingkungan (EMDI – Bapedal, 1994). 
Husin (2003), melaporkan bahwa air buangan industri tahu mengandung BOD 3250 mg/l, COD 6520 mg/l, TSS 1500 mg/l dan nitrogen (N) 1,76 mg/l. Apabila dibandingkan dengan baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri sesuai dengan Kep Men LH. No. Kep 51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri, kadar maksimum yang diperbolehkan untuk BOD, COD dan TSS berturut-turut adalah 50, 100 dan 200 mg/l, maka jelas bahwa limbah cair industri tahu melebihi baku mutu yang dipersyaratkan.
            Industri tahu dalam proses pengolahannya sebenarnya menghasilkan limbah padat dan cair. Limbah padat dihasilkan dari proses penyaringan dan penggumpalan, limbah ini kebanyakan oleh pengrajin dijual dan diolah menjadi tempe gembus, kerupuk ampas tahu, pakan ternak, dan diolah menjadi tepung ampas tahu yang akan dijadikan bahan dasar pembuatan roti kering dan cake. Sedangkan limbah cairnya dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pengepresan dan pencetakan tahu, oleh karena itu limbah cair yang dihasilkan sangat tinggi. Mengingat Limbah cair tahu dengan karakteristik mengandung bahan organik tinggi maka kadar BOD, COD nya relatif cukup tinggi pula, sehingga jika langsung dibuang ke badan air, jelas sekali akan menurunkan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu sesungguhnya industri tahu memerlukan suatu pengolahan limbah yang bertujuan untuk mengurangi resiko beban pencemaran yang ada.



2.3       Solusi Perbaikan
            Berdasarkan kasus dari pengamatan di atas maka dibutuhkan perbaikan-perbaikan agar pembuangan limbah dan khususnya limbah tahu tidak lagi merusak lingkungan sekitarnya. Berikut usulan perbaikan yang layak dijadikan solusi bersama:
1.         Perbaikan teknologi pengolahan limbah
2.         Perilaku masyarakat untuk MCK khusus tidak disungai
3.         Pemantauan terhadap buangan limbah harus benar-benar dilaksananakan
4.         Penegakan Perda secara konsisten
5.         Kerjasama lintas sektor untuk pengelolaan lingkungan dan pemantauan lingkungan

DAFTAR PUSTAKA

EMDI – BAPEDAL, 1994. Limbah Cair Berbagai Industri di Indonesia: Sumber Pengendalian Baku Mutu EMDI – BAPEDAL.
Farizd, Raden. 2012. pencemaran dari limbah industri pertanian pabrik tahu. Universitas trunojoyo Madura: Madura
Hambali. (2003). Analisis Resiko Lingkungan (Studi Kasus Limbah Pabrik CPO PT Kresna Duta Agroindo Kabupaten Merangin, Jambi). Program Pascasarjana, Program Studi Magister Teknik  Lingkungan ITS, Surabaya.
Husin, A. 2003.  Pengolaha Limbah cair industri Tahu, menggunakan Biji kelor (Morinaga oeleifera Seeds) Sebagai Koagulan, Laporan Penelitian Dsen Muda, Fakultas Teknik USU.
Nurhasan dan Pramudyanto, B. B., 1991.  Penanganan Air Limbah Tahu. Yayasan Bina Karya Lestari, Jakarta.
Santoso, H. B. 1993.  Tempe dan Tahu kedelai.  Kanisius, Yogyakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar